Tanaman Caisim atau lebih dikenal dengan sebutan sawi merupakan sayuran yang dapat ditanam pada dataran tinggi terutama hingga dataran rendah.

Sawi yang memiliki namalatin  Brassica sinensis L merupakan salah satu sayuran yang mengandung pro vitamin A dan asam akrobat atau vitamin C biasa digunakan untuk bahan makan biasa, atau campuran mie ayam serta bakso.

Caisim juga bermanfaat untuk menyembuhkan sakit kepala,menghilangkan rasa gatal pada tenggorokan bagi penderita batuk, memperbaiki dan memperlancar pencernaan serta untuk memperbaiki ginjal.

Cara Budidaya Caisim Secara Organik

Sawi bisa tumbuh di segala musim,  baik panas, kering atau hujan, asalkan pengaturan drainase di tata secara apik agar sawi tidak kekurangan atau kelebihan air. Sebaiknya budidaya tanaman caisim dilakukan dengan persemaian dahulu.

1. Persiapan benih dan persemaian

Untuk menghasilkan biji, di butuhkan waktu selama 70 hari tanaman berbunga. Baru kemudian bisa di panen dan di jemur hingga biji benar – benar kering, jika matahari terik kemungkinan hanya membutuhkan waktu 1 – 2 hari untuk kering. Setelah kering biji tersebut bisa langsung di pakai atau disimpan hingga 3 tahun.

Jika berniat menyimpan biji caisim ini, maka simpanlah pada botol kaca yang telah disterilkan dengan cara direbus untuk menghilangkan jamur dan kuman.

Jika sudah, botol dikeringkan hingga benar – benar kering, bau kemudian biji dimasukkan lalu di tutup dengan abu halus yang mana dapat menyerap uap air sehingga kelembaban pada benih dan botol terjaga. Selain itu jika ditutup menggunakan abu, biji caisim tersebut masih bisa bernafas dengan baik.

Jika anda ingin langsung memakainya , maka rendamlah biji caisim dalam air selama kurang lebih 2 jam untuk proses penyemaian.

Jika sudah angkat, tiriskan dan sebar di tempat penyemaian yang terbuat dari tanah + kompos halus dan memiliki pelindung untuk menghindari pancaran sinar matahari secara langsung dan juga air hujan. Jangan lupa menutupnya dengan jerami kering selama 2 – 3 hari hingga tunas muncul.

Pindahkan jerami tersebut hingga bibit caisim tumbuh hingga 2 – 3 Minggu dan jaga juga kelembaban pada media tanah serta siram secara teratur.

2. Pengolahan dan penanaman

Gemburkan Tanah dengan bajak atau pacul dan buatlah bendengan dengan panjang disesuaikan , tinggi sekitar 20 – 25 cm, dan lebar satu meter.

Campurkan pupuk dasar yang bisa berasal dari pupuk kompos, kotoran ayam misalnya, aduk secara merata pada permukaan tanah sebanyak 20 ton per hektar dan biarkan selama 2 – 3 hari.

Tanam bibit caisim yang sudah memiliki 3 – 4 helai daun pada bendengan dengan jarak 10×15 per tanaman. Jangan lupa selalu menyiramnya dan menjaga kelembabannya.

3. Perawatan

Penyiraman di lakukan 2 kali sehari pada musim kemarau, dan lakukan 1 kali sehari jika matahari tidak terlalu terik

Lakukan penjarangan jika tanaman sawi tumbuh terlalu berdempetan dan akhirnya mengganggu taman yang lain

Lakukan penyuluhan jika taman mati atau lagu menggunakan bibit penyemaian tadi

Lakukan penyiangan gulma sebanyak 2 – 4 kali mulai dari Minggu pertama sejak di pindahkan pada bendengan

Buat penanggulangan terhadap serangan hama seperti ulat dan penyakit seperti busuk daun dengan cara membuat larutan nabati dari kipait + gadung + sabun colek atau putih telur sebagai perekat. Cara ini bersifat mengusir sementara. Atau lakukan penyiraman pada tanaman secara teratur.

4. Panen dan pasca panen

Panen dapat dilakukan setelah 20 hari dari bibit penyemaian atau total sekitar 40 hari dari penanaman dengan cara hanya mencabut akarnya. Sekali panen bisa sampai menghasilkan 20 ton per hektar caisim.

Setelah panen, maka akar caisim dibersihkan dan dilakukan penyortiran kemudian beberapa caisim di ikat menggunakan bambu atau tali lainnya.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan mengenai Cara Budidaya Caisim Secara Organik. Semoga bisa bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *